Sabtu, 15 Juni 2013

Sambel Terasi




Tarik nafas dalam-dalam keluarkan berlahan, tenang dan berdoa "Ya Allah...jangan biarkan hamba mendzolimi mereka amiin" Bismillah, sebisa mungkin rileks dan yakin bahwa aku bisa walaupun.... keringat itu tidak bisa berhenti -grogi- Oh... rasanya seperti ujian praktek waktu masih duduk di bangku sekolah.

Aku mungkin eh bukan mungkin tapi pasti :p aku pasti termasuk golongan mereka yang tidak bisa masak. So, ketika harus masakin yang ada kelimpungan sendiri. Bingung mau masak apa bukan bingung karena terlalu banyak pilihan sebaliknya, bingung karena engga' ada list masakan yang muncul di otak :'( ke pasar juga bingung apa aja yang harus dibeli. Mentok yang dimasak itu kalau ga' sayur sop, sayur bening, tumis kangkung, capjay, sayur asem, cah sawi & wortel. Itupun dari 10 kali masak yang dapat nilai 8 hanya sekali dua kali, sisanya dibawah itu nilai 7 sudah sebuah prestasi buatku hehehe (kasian ya..) dan bisa ditebak apa lauknya :'p pasti antara tahu tempe goreng, ikan laut goreng kalau engga' telor goreng entah itu diceplok atau didadar (kasian bener yang jadi suaminya T.T). 

Yang paling parah bikin sambel terasi aja rasanya jauh dari namanya sambel. mungkin dari sekian kali buat yang bersahabat dengan lidah cuman 1 atau 2 kali saja :|. sisanya entah itu kurang garam,kadang kurang terasi kadang juga terlalu manis :'( Sekarang jadi agak parno kalau kudu buat sambel,masih perlu belajar lagi dan lagi dan terus. Apalagi menyajikannya pada para penikmat sambel :D

Senin, 03 Juni 2013

..: Catatan Alia :.. #2

"Kalau tujuanmu menikah adalah hanya untuk mempunyai anak, maaf mungkin aku bukan jodohmu. Tapi kalau tujuanmu adalah membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahma yang penuh barokah mari kita lanjutkan perjalanan ini, Insya Allah aku akan menemanimu sampai sisa umurku ditutup olehNya, masih banyak di luar sana anak-anak yang membutuhkan kasih sayang kita, kita bisa mengasuh salah satu dari mereka"

Kalimat itu sungguh menohok hatiku. Ketika seorang wanita dipertanyakan kewanitaannya maka pada saat itulah ada rasa ketakutan tersendiri dalam hatinya. Seandainya aku... mungkin aku tidak akan sanggup mengatakan rangkaian kalimat-kalimat itu pada suamiku. Tak berani membayangkan apa jawaban sang suami ketika sederet kalimat itu terlontar dari mulut seorang istri.

Dia, seorang istri yang kata dokter rahimnya maskulin hingga akan sulit untuk ia bisa mengandung. Segala macam pengobatan ia coba, dari tes hormon, minum sari dele, sari kurma, vitamin E dengan dosis yang lebih tinggi dari biasanya hingga minum air bunga lima rupa semua itu dia lakukan tidak lain dan tidak bukan untuk bisa hamil dan mendapatkan momongan. Dalam kehinangan malam, diantara dinginnya angin yang menusuk tulang, ditemani air mata yang enggan berhenti doa itu dilantunkan dengan sesekali sesenggukan itu tak bisa ia tahan. Hem...bagaimanapun manusia penuh dengan keterbatasan. Ada titik dimana dia lelah untuk melakukan semuanya hingga rentetan kalimat itu keluar dengan lugasnya dari mulut yang mungkin terlalu lama memendam kata. Penantian yang panjang membuat dia tak segan untuk bertanya pada Rabbnya "kenapa ini terjadi?, mengapa harus dia yang merasakan? dosa apa hingga dia harus merasakan sakit seperti itu?" dengan sekuat tenanga ia berusaha untuk ikhlas melepas mimpi setiap wanita yang sudah menikah - menjadi seorang ibu- tapi itu jauh dari kata "mudah".

Kau tahu, justru pada saat dia berada di titik 0 (nol), Allah menanamkan benih dalam rahimnya. Janin yang tidak rewel, janin yang tumbuh dengan sehat dan terlahir menjadi anak laki-laki yang tampan, lucu dan menyenangkan.

Sekarang ketika malaikat kecil itu beranjak satu tahun dengan tingkah pola yang begitu aktif membuat dia sadar kenapa Allah membuatnya menunggu beberapa lama. Ternyata menjadi ibu itu tidaklah mudah, mendidik anak itu butuh kesabaran extra yang tidak semua ibu memilikinya. Anak yang dulunya ia dambakan, kadang membuat dia menangis karena tak sanggup mengikuti gerak lindahnya yang lebih dari anak pada umumnya. Dia menangis karena dia merasa belum bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya.

Dan aku...
Dari hasil tes HSG dinyatakan kalau saluran telorku tersumbat sebagian istilahnya partial obstruksi tuba kanan kiri yang mengakibatkan sulitnya hamil dikarenakan sperma tidak bisa masuk ke tempat seharusnya. Ketika kuajukan pertanyaan pada dokter solusi apa yang membuat penyumbatan itu hilang hingga aku bisa hamil, singkat padat jelas dokter itu menjawab - bayi tabung-. Aku masih menginginkan jawaban lain kutanya lagi alternatif yang bisa aku tempuh dokterpun menjelaskan agak panjang. "Bisa sih bu operasi, akan dimasukkan kamera untuk melihat keadaan di dalamnya seperti apa, tapi yang paling aman dilakukan adalah dengan program bayi tabung". Seketika pikiranku kosong, berharap bahwa malam itu, semua yang dikatakan dokter itu adalah mimpi. Berharap bahwa aku baik-baik saja tidak ada yang salah dengan kewanitaanku. Nyatanya itu benar-benar terjadi dan sama seperti dia aku bertanya kepada Allah Rabbku kenapa ini terjadi padaku.
Tapi nyatanya air mataku tak bisa berhenti begitu saja, itu adalah kenyataan. Dan lewatnya Allah menyapaku kembali, mengingatkanku untuk mendekat lebih dekat, untuk mengajarkan bagaimana iktiar, apa itu ikhlas dan Allah memberiku sedikit waktu lagi untuk mempersiapkan diri menjadi ibu yang baik. Bukankah kita harus selalu berprasangka baik padaNya kan?
"Sesungguhnya Aku sesuai prasangka hambaKu"

Kalau kami tidak punya anak? siapa yang akan mendoakan kami ketika kami kembali kepadaMu kelak? siapa yang akan menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kami? Bukankah doa anak yang soleh solehah adalah amalan yang tidak pernah putus?
“apabila mati seseorang anak adam itu .. maka akan terhenti segala amalanya kecuali 3 perkara iaitu sedakah jariah, ilmu yang memberi guna, doa anak – anak yang soleh”
                                                              
                     "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh," (QS. Ash-Shafat:100).

Dan..
Inilah ikhtiar kami Ya Rabb.. ridhoilah
Amiin Allahumma Amiin

Rabu, 29 Mei 2013

Barokallah...


Barokallah...
Semoga sisa umur yang barokah itu untukmu... 


Kemarin, tepat 29 tahun yang lalu Allah memperkenalkan kamu dengan bumi yang sangat indah ini. 29 tahun yang lalu seorang wanita mendapat gelar "ibu", 29 tahun yang lalu wanita itu meregang nyawa sebagai taruhan demi tangisanmu yang menggetarkan hati setiap insan di ruang bersalin. Yah... sudah 29 tahun masa itu berlalu. Kini giliranmu yang menanti masa dimana akan kau sandang gelar "ibu". Aku tahu betapa kamu menginginkannya sebagai hadiah ulang tahun terindahmu tahun ini, tapi sepertinya tidak dengan Allah. Jangan berkecil hati bukan berarti Allah tidak mendengar doamu, IA hanya menunda masa itu bukan untuk menghukummu melainkan sebaliknya IA ingin kamu benar-benar siap menyandang gelar itu. Semoga gelar itu menjadi hadiah pernikahanmu tahun depan, amiin Ya Rabb. Kalau kamu bertanya hadiah apa dari Rabbmu.. banyak yang telah Allah kasih padamu, kau tahu seorang ibu yang tidak pernah melepas namamu dari daftar doa panjangnya, seorang ayah yang dengan tulus membesarkanmu dan seorang suami yang dengan setia menemanimu menghabiskan hari-harimu walaupun kamu tidak sedikit cerewet, agak sedikit childish dan tidak pandai memasak. Suamimu selalu sabar menghadapimu yang mendadak seperti anak bungsu kalau di hadapannya. Apa itu masih kurang? jangan pernah mendustakan nikmatNya yah... ^ ^

Barokallah...
Semoga Allah senantiasa menjagamu dalam setiap langkahmu, memudahkan semua urusanmu, meneguhkan imanmu dan meluaskan hatimu untuk menjadi sosok yang tangguh. Semoga kamu termasuk golongan istri yang solehah, mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak. Kalaupun Allah belum memberikanmu apa yang kamu inginkan, jangan lelah untuk meminta padaNya, iyah.. hanya kepadaNya. Dialah yang memiliki apa yang di bumi dan yang di langit. Syukuri apa yang engkau miliki, tidak selamanya rumput tetangga itu lebih hijau ingat itu. Bisa jadi justru orang lain melihat rumput rumahmu jauh lebih hijau dari apa yang mereka miliki.

Met milad alia... met milad aku
semoga tambah dewasa, tambah sukses dan sehat selalu (itu doa dari suami tercinta ^ ^)
Terima kasih banyak Ya Allah atas semua yang telah Engkau hadirkan dalam hidup yang hamba tahu jatah hamba sudah berkurang lagi. Bimbinglah hamba untuk menjadi yang terbaik untuk suami dan keluarga hamba Ya Rabbi. Hamba titip mereka Ya Allah jagalah mereka disetiap helaan nafasnya.

Kepadamu...
Terima kasih sayang atas semuanya, 
You are my everything :* (kaya' iklan susu bayi di tipi :p)

im with you...
~alia~


Jumat, 24 Mei 2013

Jangan Takut..





Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh, tidak ada sakit yang tidak ada obatnya, begitu juga dengan masalah seberapa besar masalah itu tidak mungkin tanpa jalan keluar ya kan? Allah sudah menyiapkannya berpasangan, jangan pernah lupa itu. Yang kita butuhkan hanya usaha yang sedikit lebih keras, doa yang tidak pernah lelah terucap dan sebuah keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan kita sedetikpun itu sudah cukup!

Jumat, 17 Mei 2013

..: Catatan Alia :.. #1


Hujan...
Entahlah dia selalu membuat hati yang gundah gulana menjadi sedikit tenang, mungkin karena airnya yang jatuh dari langit yang membuat dedaunan menjadi basah. Bisa jadi karena mendung yang selalu menemaninya, atau karena memang suasana yang ditimbulkan yang membuat semuanya terasa indah. Yang selalu kunanti ketika hujan turun adalah pelangi! walaupun ia tak selalu hadir :D

Begitu juga dengan air mata, dia memang tidak akan menyelesaikan masalah tapi dia bisa melegakan jiwa yang sesak. Ketika diri ini enggan untuk membagi kisah (sedih), ketika bibir ini enggan untuk berucap, ketika hati sudah cukup lelah untuk bertahan pada saat itulah air mata menjadi sabahat yang tanpa kita minta ia memeluk kita -hangat-

Tapi.. hujan yang begitu deras disertai suara petir menyambar-nyambar juga menakutkan, menangis yang tiada henti juga tidaklah baik. sesaat bolehlah tapi keterusan NO WAY!! Life must go on... ya kan? hidup akan tetap berjalan apapun yang terjadi. Boleh jadi malam ini hujan membasahi bumi tapi esok mentari akan menghangatkannya, menyisakan kesejukan, membuat dedaunan dengan sisa air hujan terlihat begitu mempesona. Kalau hari ini kita menghabiskan malam dengan air mata hingga mata kita sembab, sampai menghabiskan stock tissue, besok ketika fajar menyingsing, senyum kita tidak boleh kalah dengan sinar mentari yang begitu terang dan ceria :')

"Bersyukurlah kalau kita masih punya masalah, itu berarti kita masih hidup" toh Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya, melainkan Allah selalu memberi jalan keluar. Bisa jadi cobaan itu menjadikan kita lebih bijak, bisa meleburkan dosa-dosa kita. Dan Allah tidak akan pernah mendzolimi hambanya sebaliknya tidak ada yang lebih mengenal kita melainkan Pencipta kita. Ingat itu...


just remind me,
       Alia

Jumat, 19 April 2013

~apa adanya kamu~

~apa adanya kamu sudah melengkapi hidupku~



Suka banget sama kalimat yang dikatakan reza rahardian di film testpack. Kalimat yang membuat setiap yang mendengarkannya menjadi tenang, termasuk aku jika ada yang mengucapkannya padaku -suamiku-. Tersanjung? pastinya, Melayang ke langit ke-7? bisa jadi walau tak bersayap :')
Satu kalimat yang penuh arti, sederhana dengan sejuta makna. Tidak peduli seperti apa diri ini, tak jadi masalah besar kekurangan kita, kita sudah melengkapi hidupnya. Karena memang...sejatinya sebuah pernikahan adalah melengkapi satu sama lain, tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang tanpa celah. Cukup terima satu sama lain dengan apa adanya bukan ada apanya.

Kepada suamiku tercinta,
Apa adanya kamu sudah melengkapi hidupku
Love you...always :*



Minggu, 14 April 2013

Cukup Malam Ini..

Tuhan...
Jadikanlah segala urusan hamba menjadi urusanMu..
Ya Rabb...
Peluklah hamba dan biarkan hamba menangis sejadi-jadinya hanya malam ini
Sejenak,biarkan segala gundah di hati hilang lenyap tak tersisa
Hanya malam ini Ya Rahman...
Bukan hamba tak rela akan takdirmu
Tapi dada hamba terasa sesak,menyempit dan menghimpit
sebentar saja Ya Latif...
Cukup malam ini,biarkan hamba menangis di pelukMu...

Kamis, 11 April 2013

Elegi Nasi Bungkus dan Karet Gelang


Jingga sudah mulai terlihat di ujung langit, senja berlahan menyapa setiap insan sesaat sebelum sang malam menyelimuti bumi dari hembusan angin yang dingin. Terdengar langkah-langkah kaki yang semakin gegap berjalan berharap cepat sampai rumah mereka dan duduk selonjor sekedar melepaskan lelah setelah seharian bergelut dengan tumpukan-tumpukan tugas kantor yang seakan tak ada habisnya. Tidak semua orang memang dapat menikmati senja di luar sana, pulang kantor tepat waktu dan bisa rehat memanjakan diri di rumah. 

Seperti dia yang sedari tadi masih "asyik" menatap layar monitor tanpa berkedip di satu pojok ruangan yang memang tidak begitu luas. Sudah dipastikan bagaimana bentuknya sore itu. Kusut, rambut sudah tidak klemis lagi dan baju kerja yang sudah tidak serapi paginya. Penampilan yang membuat laki-laki muda itu memudar ketampanannya. Entah apa yang dia pikirkan, tentang pekerjaan atau hal yang lain yang jelas untuk beberapa saat tidak ada yang berubah di layar monitor itu hanya ada desain gambar yang tak semua orang mengerti termasuk aku.

Adzan maghrib sudah bersaut-sautan dari masjid di sekitar kantor, itu bertanda bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan ruangan kerjaku menuju tempat yang lebih indah dan nyaman -rumahku-. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk yang membuat aku tertahan di kantor tapi karena aku ingin sholat maghrib sekalian disana takutnya ga' sempat kalau keburu pulang tenggo. Maklum jalanan kota yang katanya orang kota terbesar kedua di Negeri kita ini sering macet kalau jam-jam pulang kerja.

Sebelum pulang kusempatkan menebar pandangan ke penjuru ruangan, sepi... tinggal satu manusia yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Kuucapkan salam padanya ketika keluar ruangan sekelibat terlibat dia sedang membuka facebook, mungkin dia sudah terlalu jenuh dengan pekerjaannya yang dikejar deadline (mungkin lagi).

Iseng juga dalam bus kota yang melaju tidak begitu kencang kubuka facebookku, diantara update status yang tampil ada satu status dari laki-laki yang mungkin masih duduk di pojok ruangan kantorku tadi. "awakmu iku ibarat karet gelang nak sego bungkus lek gak onok koen uripku ambyar" status yang membuat aku senyum-senyum sendiri membacanya. Yang pertama kali terlintas di benak adalah "laki-laki ini sedang galau". Baca komentar-komentar dengan membayangkan nasi bungkus, apa iyah kalau tuh karet dilepas nasinya akan berantakan? Ehm...sepertinya tidak juga ya...


Malam sudah mulai larut, angin semakin dingin terasa dan sepertinya hujan juga akan membasahi bumi, dan aku masih menikmati kesendirianku di teras belakang sambil mencorat-coret blog yang sudah lama kubiarkan usang. Sampai selarut itu status yang kubaca di bus tadi tidak jua lekang dari ingatan -elegi nasi bungkus dan karet gelang-. Geli sendiri memberikan judul "elegi nasi bungkus dan karet gelang". Seandainya aku yang si gelang karet dan pujaan hatiku menjadi nasi bungkusnya maka aku akan bicara seperti ini pada si nasi bungkus "Seandainya aku tidak lagi melingkarimu untuk menguatkanmu maka jadinya nasi yang punel ya...yang ga' mudah ambyar ketika bungkus itu terbuka" pun sebaliknya. Karena percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita seorang diri, bukan begitu....?

Status yang sederhana tapi cukup mengesankan untuk menutup malamku hari itu. Terima kasih kawan ^ ^


Senin, 28 Januari 2013

lelah...

kadang, diri ini lelah untuk diam meredam amarah
kadang, hati ini cukup letih untuk memahami apa yang tak sepaham
kadang,langkah ini ingin berbalik arah dan mengulang semua yang tlah lalu,tak jarang kaki ini berdiri terpaku untuk mencerna apa yang sedang terjadi
kadang,tubuh ini butuh bahu untuk sekedar bersandar menghapus lelah yang tak juga sirna

Jumat, 04 Januari 2013

Saya Cemburu...


Cemburu?
Iyah saya cemburu
Tidak suka?
Yup sebenarnya saya tidak suka
Kalau harus pergi dengannya, diijinkan?
TIDAK...tidak akan!

Sekarang,
Ganti saya yang bertanya
Kalau tidak saya ijinkan, apakah tetap pergi?
Kenapa diam?
Berarti akan tetap pergi dengannya ya?
Masih tak mau menjawab?

Hening....
dan saya...
Sedang menata hati saya
Antara marah, kecewa dan sedih
Begitu sulitkan memenuhi permintaan itu?
Saya hanya ingin tidak ada dia di sela-sela kamu dan saya
Hanya itu...

Masih tak ada jawaban diantara hening
dan saya...
Mengatur nafas saya agar tidak sesenggukan
Saya menangis....


 * hanya sebuah tulisan karena rasa bernama cemburu sedang menyapa saya :')
    semoga tidak ada siapapun yang hadir diantara kami amiin...